Antara Gw, Papa dan Grojogan Sewu

Indonesia punya banyak banget air terjun yang cakep. Salah satu yang indah dan selalu membekas diingatan gw adalah Air Terjun Grojogan di Tawangmangu, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah.

Grojogan Sewu

Grojogan Sewu

***

Sebuah album yang besarnya kira-kira seperti bantal bayi itu berisi puluhan foto oom gw yang doyan jelajah alam. Potret perjalanannya di gunung, hutan, serta air terjun, bisa dilihat di sana. Gw pun melihat-lihat berbagai fotonya yang bikin ngiler buat jalan-jalan.

Saat membuka-buka album itu, ada bokap duduk di dekat gw. Ketika di halaman album itu terpampang sebuah air terjun, kemudian doi kira-kira mengatakan kalimat ini ke gw, “Ini Grojogan Sewu di Tawangmangu. Dulu papa pernah ke sana, bagus lho.”

Kemudian doi sedikit cerita-cerita kecenya si air terjun itu. Walaupun dia tidak menunjukkan foto dirinya waktu ke sana (zaman doi muda nggak semua orang bawa kamera pas jalan-jalan), gw yang lagi liat-liat foto air terjun di album oom gw pun langsung membayangkan betapa asyiknya kalau gw bisa ke sana.

Kalau soal jalan-jalan gini sih, emang gw gampang banget buat kepingin. Apalagi sudah keburu tahu kalau tempatnya indah. Gamau kalah juga sama bokap dan oom gw yang sudah pernah ke sana, gw pun suatu hari harus bisa ke sana juga.

***

Keinginan buat dateng ke Grojogan Sewu pun terus terpendam. Sampai gw kuliah di Semarang, yang notabene bisa nyampe ke sono dalam waktu sekitar setengah hari saja, gw ga pernah sempet. Sama bokap sih sempet ke Solo, tapi cuma numpang lewat doang karena waktu itu lagi nyobain naik kereta ke Jogja.

Bahkan waktu PBL di rumah sakit di Solo, yang cuma satu jam aja sampai ke sana, masih saja nggak pernah jadi mau pergi. Tugas-tugas PBL kadang emang bikin gw dan teman sekelompok ngga sempat meluangkan waktu buang jalan jauh.

Akhirnya tahun 2014, beberapa minggu setelah gw lulus, datang juga kesempatan buat bertandang ke Air Terjun Grojogan Sewu. Waktu itu sebelum gw pulang kampung, disempetin buat ke sana bareng teman-teman kampus namanya Afina, Okka dan Bulun. Kalau nyokap sama adek gw, lagi di Lampung dan kayaknya waktu itu lagi nggak libur, jadi nggak ikut.

Okka dan Bulun memang tinggal di Solo, kalau Afina waktu itu kayaknya sih lagi di Jogja. Terus kita semua ketemuan di Solo dan memutuskan buat ke Grojogan Sewu naik motor. Tadinya mau naik bus, berhubung jarak dari turun bus sampe air terjun harus jalan kaki jauh banget, ya mending motor sih.

Kami berempat bermotor ria di jalanan dengan ditemani cuaca lumayan cerah. Sekitar 1 jam berkendara, kami pun tiba di area wisata Air Terjun Grojogan Sewu. Banyak monyet-monyet yang seakan menyapa pengunjung sekalian minta pisang kali ya.

Well, gw kira dari parkiran motor nggak jauh-jauh amat ke air terjun. Nggak tahunya, ummmm ratusan anak tangga harus dilewati sebelum tiba di sana. Kalau tadi sejam bokong tepos duduk di motor, sekarang masih kudu olahraga turun tangga.

gro2

Tangga yang harus dilewatin

Tapi it’s okay. Kanan kiri tangga ada pepohonan asri, sesekali ada monyet-monyet berkeliaran yang muncul di tengah jalan. Kami juga turun tangga sambil foto-foto. Semangat masih on!

Nggak lama kemudian, kami sampai juga ke objek yang sudah gw impi-impikan ini. Air terjun setinggi sekitar 81 meter itu tinggi menjulang di hadapan gw. Gemuruhnya terdengar syahdu, kesegaran suasana di sekitarnya pun terasa. Ya ampun ini bagus banget! Sayang saat itu nggak ada bokap gw yang harusnya bisa menikmati keindahan air terjun ini lagi sama gw… (nulis beginian memang bikin baper, kangen, papa, mama dan aan)

gro3

Anyway, di sini nggak boleh berenang. Jadi cukup dilihatin saja air terjunnya. Kami berempat juga nggak melewatkan kesempatan buat foto-foto. Sudah jauh-jauh sampai sini, gw harus mengabadikannya di kamera buat kenang-kenangan.

hgv

Setelah lumayan lama main-main di sana. Kami pun siap-siap pulang. Langit mendung banget saat itu. Baru sebentar menaiki anak tangga, hujan turun dengan derasnya. Untungnya ada beberapa gazebo plus tempat duduk buat berteduh.

Lama banget ujannya nggak reda-reda. Kamipun naik lagi dengan memakai payung sewaan. Ada ibu-ibu yang menyewakan payung besar, bayarnya sekitar Rp 5 ribu. Pelan-pelan gw naik karena takut kepeleset. Maklum , gw pakai sendal jepit waktu itu.

Anak tangga seakan tak ada habisnya. Ngos-ngosan tak berkesudahan lah saat itu. Entahlah sudah berapa anak tangga yang kami lewati, tapi di dekat ujung tangga ada papan yang kira-kira bertuliskan ‘Selamat Anda telah turun dan menaiki 1.250 anak tangga’. Errrrr pantesan. hahaha

Usai melewati semua anak tangga, kami lalu mengembalikan payung dan duduk di kios yang menjual wedang ronde biar hangat. Hujan berangsur-angsur reda. Kami pun melanjutkan perjalanan ke Rumah Teh Ndoro Donker yang lokasinya juga masih di sekitar kaki Gunung Lawu. Setelah itu kami pun pulang, kembali menancap gas menuju Solo.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s