Menjejak di Jepang yang Bagaikan Mimpi

Jepang jadi salah satu negara impian banyak orang, termasuk gw. Mimpi buat traveling ke Jepang jadi nyata di musim semi kemarin. Kaki ini menjejak di sana kala sakura bermekaran dengan indahnya.

***

jap1

Hiroshima Castle

2013

Sempet daftar program exchange salah satu organisasi di kampus buat kerja di Tokyo atau Nagoya, Jepang. Niat banget, tapi nggak match-match. Akhirnya nggak jadi dan memang sepertinya waktu itu gw harus kelarin skripsi dulu.

***

2015

Suatu hari kerja di tengah hiruk pikuk Jakarta, satu pesan Whatsapp masuk ke hp gw. Isinya dari teman yang sering main bareng dari zaman kuliah. Nggak ada angin nggak ada hujan, doski ngajakin gw buat backpacking ke Jepang pas musim semi tahun 2016.

Waktu itu posisinya gw baru beberapa bulan keterima kerja dan tabungan pun belum banyak. Tapi entah kenapa dalam hati gw kok langsung kepingin bales OKE. Lagian berangkatnya tahun depan jadi masih ada waktu buat nabung. Sebelum gw benar-benar meng-iya-kan ajakan doski buat ke Jepang pakai biaya sendiri, gw tanyain dulu ke nyokap. Dan untungnya langsung boleh.

Beberapa minggu kemudian itinerary langsung dikirim email gw. Iya, teman gw yang satu itu hebat banget kalau urusan itinerary. Gw sendiri nggak bisa buat itinerary niat yang sampai tiap objek wisatanya ada catatan kaki super detail.

jap4

Philosopher’s Path

Nggak lama kemudian, dua sahabat gw yang juga rencana mau ke Jepang akhirnya join. Jadi lengkap deh berempat bakalan capcus bareng. Sayangnya, karena sebuah alasan yang bikin gw hampir bailed juga sih, temen gw yang awalnya ngajakin ke Negeri Sakura itu batal berangkat.

Yaudah nggak apa-apa. Finally, fix banget gw, Amanda dan mbak Tami (pakai mbak deh kan lebih tua :p) memilih tanggal 1-10 April buat traveling di sana. Tiket pesawat dan hotel segera dipesan berbulan-bulan sebelum keberangkatan. Bahkan saking excited-nya, h-2 bulan sudah bahas tentang naik apa ke bandara dan siapa jemput siapa!

jap8

Fushimi Inari

***

31 Maret 2016

Packing sesimple mungkin. Terlalu banyak tas atau printilan kecil-kecil bikin susah sih, bayangin aja di sana bakalan banyak jalan kaki. Nggak kayak di Jakarta yang bisa pesen GoJek.

Akhirnya gw bawa 1 tas selempang dan 1 koper sedang. Tentunya dengan tas lipet di dalam koper buat siap-siap siapa tahu pulang-pulang barang bawaan membludak. Seringkali papan diskon bisa bikin orang yang nggak pengen belanja malah jadi beli ini itu. Doesn’t it?

***

1 April 2016

Flight tengah malam, jadi siangnya kerja dulu biar irit cuti. Kelar kerja gw langsung ke Amanda dan kami langsung ke Mbak Tami dan cus ke bandara. Di jalan gw inget kami heboh ngobrolin tentang sewa pacar di salah satu online shop yang ternyata fake karena April Mop, sampai nggak terasa tahu-tahu sudah sampai bandara.

Duduk manis di bandara. Nunggu panggilan keberangkatan dan kami pun naik ke pesawat yang membawa ke Jepang which was Garuda Indonesia. Pesawat penuh saat itu, traveling Jepang sepertinya lumayan hits apalagi di musim semi.

Penerbangan Jakarta ke Haneda, Jepang sekitar 7 jam. Kalau nggak mau kelewatan mid night snack jangan keburu molor habis lepas landas #penting #mudahlapar

***

2-10 April 2016

Sampai di Haneda, gw, Amanda dan Mbak Tami langsung nuker JR Pass buat naik Shinkansen ke Kyoto. Kami naik dari stasiun di Tokyo. Well, waktu nunggu kereta gw merasa seperti masuk ke dalam dunia manga yang dulu sering gw baca.

Anak sekolah dengan rok pendek dan kaos kaki panjang, mbak-mbak cantik yang modis. Begitu juga mas-masnya dengan rambut ala-ala pakai poni dan gaya yang Jepang banget (yaiyalah), suasananya pokoknya sama dengan yang banyak digambarkan di komik Jepang.

jap7

Shinkansen

Udara cukup dingin, di bawah 10 derajat kalau nggak salah dan saat itu berangin. Tapi rasa excited tetap membuncah. Gw, Amanda dan Mbak Tami menunggu kereta datang. Jadwalnya sudah tertera, enak sih, jadi tahu perlu nunggu berapa menit lagi dan….. sesuai dengan yang orang-orang katakan, kereta datang tepat waktu. Keren!

Nggak perlu nunggu lama kami langsung naik. Gw mudah banget buat kagum, dan naik Shinkansen ini menurut gw sesuatu banget sih. Salah satu list traveling gw memang pingin naik salah satu kereta tercepat di dunia itu.

Seperti apa pengalaman gw naik Shinkansen? Yeah it was great. More story kayaknya bakal gw tulis di artikel terpisah.

jap2

Shibuya Crossing seen from Shibuya Station

Long story short, kami sampai di Kyoto. Di sana, kami menghabiskan waktu beberapa hari sebelum lanjut ke Hiroshima. Tapi inbetween, kita bertiga sempet ke Nara dan Osaka, dengan tetap menginap di Kyoto. Bolak-balik gini mungkin kedengarannya boros, tapi nggak kok.

Gw menjunjung azas traveling irit dan menurut gw itinerary kami sudah tepat. Nggak perlu repot nyari penginapan yang belum tentu dapat harga murah di tiap kota. Kami juga tetap mengirit banyak waktu karena naik kereta, nggak naik bus. Kepingin juga sih roadtrip naik bus jarak jauh di Jepang, tapi berhubung setiap detik di sana sungguh berharga dan banyak yang pingin kami eksplor, kereta jadi pilihan utama.

jap6

a night in Dotonbori

Bisa lebih irit ini karena pakai JR Pass. Nah kartu itu bisa dibeli di Indonesia. JR Pass yang berlaku 7 hari harganya sekitar 3 juta. Banyak sih keuntungannya, mulai dari kita bisa naik Shinkansen sepuasnya (kecuali Shinkansen Nozomi dan Mizuho), dan subway JR Line juga bisa gratis lho.

Misalnya saja dari Nara ke Osaka bayarnya 800 Yen (Rp 96 ribu), tapi kalau pakai JR Pass nggak perlu bayar lagi, tinggal tunjukin aja ke petugas di stasiun terus ngeloyor deh nunggu kereta. Makanya setiap lihat situs Hyperdia buat ngecek jadwal kereta, bakalan senang kalau di rute yang kami tuju ada simbol kereta hijau dengan tulisan JR di sebelahnya.

jap5

Ketemu rusa di Nara Park

Selama sekitar 9 hari di Jepang, secara keseluruhan kami mengunjungi Kyoto, Nara, Osaka, Hiroshima dan terakhir Tokyo sama Kawasaki. Banyak sekali keseruan yang nggak bakal gw lupain.

Mulai dari makan onigiri literally setiap hari, jalan-jalan melihat indahnya sakura, ketemu Geisha di Kyoto, ala-ala hanami sambil makan onigiri (tetep) di dekat Hiroshima Castle, seru-seruan di Universal Studio Japan, panik di Nara gegara takut disundul rusa, heboh di Museum Fujiko F Fujio, kesenengan jalan-jalan di Akihabara, nyobain Purikura di Shinjuku dan masih banyak lagi.

Pastinya pengalaman liburan ke Jepang asyik banget. Kalau ada kesempatan buat ke sana lagi di masa depan, gw sangat mau apalagi kalau gratis. mhuehuheuhauhauahuaaua

jap9

onigiri, i’m in love

Tips liburan ke Jepang #penting:
-Nabung
-Kalau punya e-paspor nggak perlu pakai visa, tapi tetap harus ke kedutaan dulu. Bebas visa ini nanti ada semacam stiker kecil gitu yang bisa diurus sekitar 2 hari saja
-Booking tiket pesawat jauh-jauh hari
-Booking penginapan jauh-jauh hari, seriously berbulan-bulan sebelumnya harus sudah pesan
-Beli JR Pass kalau mau ke lebih dari satu kota
-Beli Suica atau Pasmo buat di Tokyo
-Beli one day pass buat naik bus sama kereta di Kyoto
-Kalau nggak ahli dalam membaca peta ajak teman yang paham (maacih Mbak Tami hihihi), atau kalau dirasa bingung jangan malu bertanya. Kalau nggak bisa bahasa Jepang, santai, cukup banyak kok yang bisa ngarahin jalan pakai bahasa Inggris
-Pakai situs Hyperdia buat jadwal kereta, soalnya yang ini bahasa Inggris
-Jangan buang sampah sembarangan
-Jangan pulang kemaleman kalau nggak mau kehabisan kereta atau bus. Beberapa daerah kereta dan bus tidak 24 jam
-Kalau terlanjur kemaleman yaudah deh naik taksi *elus dompet*

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s