Onigiri I’m in Love

Ini bukan kisah cinta gw sama orang yang namanya onigiri. Tapi tentang irit budget makan selama traveling ke Jepang. And yes, onigiri was in my top list.

***

oni1

Before Japan

Kalau googling tentang biaya makan, atau sekadar mendengar cerita dari teman yang sudah pernah ke Jepang, pastilah bikin gw pengen diet aja tiap hari di sana. Well, diet dompet maksudnya :”). Informasi yang gw dapet sih pada bilang kalau biaya makan di Negeri Sakura itu termasuk mahal.

Sampai suatu hari temen gw bilang kalau mau ngirit, gampangnya beli aja onigiri aka nasi kepal. Bentuknya biasanya segitiga atau bulat, dengan lapisan nori di luarnya dan aneka isian lezat di bagian dalamnya.

Yasudah, gw pun mendapat pencerahan. Rasa galau hilang. Pokoknya kalau laper cari onigiri, kalau pengen bawa bekal siapin aja onigiri, kalau haus kasih sayang cari juga onigiri #lah

***

oni3tuna
In Japan

Hari pertama sampai di Jepang langsung ke penginapan di Kyoto. Dari pemberhentian bus jalan kaki beberapa menit sampai ke penginapan sambil geret koper. Kala itu barang bawaan belum beranak dan masih batas wajar buat dibawa, sambil beradaptasi dengan suhu yang kayaknya sih di bawah 10 derajat Celcius.

Rasa lapar tak pelak muncul. Dengan semangat menggebu, gw, Amanda dan mbak Tami pun berangkat buat nyari onigiri di perjalanan menuju destinasi wisata pertama kami which was Philosopher’s Path. Untungnya dari penginapan menuju pemberhentian bus ada convenience store yang bisa kami hinggapi, ada Lawson sama FamilyMart. Kami pun masuk ke FamilyMart yang saat itu posisinya nggak perlu nyeberang jalan.

Derap langkah kaki gw menghentak buat nyari onigiri. Di salah satu lemari pajangan, tampak aneka onigiri berjejer dengan indahnya. Perut yang mulai keroncongan akan segera terisi.

oni2
Namun ada satu problem baru yang membuat kami sempat terhenti sejenak sebelum memilih onigiri mana yang mau dibeli. Tulisan di bungkus onigiri di FamilyMart itu semuanya bahasa Jepang dan kami nggak ada yang bisa membacanya. Iyasih isi onigirinya apa juga ada gambarnya tapi ya tetap lah kurang mantap kalau belum benar-benar baca itu isinya apa. Karena kami memang mencari yang no pork.

Gw nyoba menyamakan tulisan dengan gambar di google yang ada bahasa Inggrisnya, tapi susah nyari yang mirip. Akhirnya mbak Tami motret beberapa onigiri dan nanyain ke temannya yang bisa bahasa Jepang, masing-masing isinya apa. Kemudian kami pun memilih onigiri, ada yang isi tuna mayo, soy sauce bonito dan lain sebagainya. (Btw kalau onigiri di Lawson gw lihat ada bahasa Inggrisnya.)

Harganya kisaran 100-150 Yen, ada juga yang diskon jadi 80 Yen saja. Kami pun membeli sejumlah onigiri dan menikmatinya sambil berjalan menuju Philosopher’s Path. And soon, onigiri soy sauce bonito becomes my favorite.

Sejak saat itu, kami pun rutin mampir ke FamilyMart atau Lawson buat beli onigiri. Pagi pas mulai jalan-jalan, kalau gw biasanya beli 3 atau 4 onigiri dan ini lumayan bikin kenyang seharian. Kemudian pas malam sebelum balik ke penginapan, kami mampir lagi ke sana.

Kalau gw sih malam biasanya beli mie instan, sama goreng-gorengan. Pas beli mie ini kadang gw beli 1 atau 2 onigiri buat stock kalau tetiba tengah malem lapar atau buat sarapan.

oni13

My favorite noodle

oni14

Kirain itu yang lebar tahu, ternyata bukan

Kalau dihitung kira-kira sehari gw makan 5 onigiri dan pengeluarannya sekitar 500 Yen itu buat makan pagi, siang, sore. Buat makan malam mie instan harganya 210 Yen ditambah gorengan semacam perkedel kentang daging around 100 Yen apa ya (harga gorengan ini gw agak lupa maap). Jadi sehari buat makanan utama gw menghabiskan sekitar 810 Yen (Rp 98 ribu dengan kurs waktu itu 1 Yen=122 Rupiah).

oni4bonito

On my way to Philoshoper’s Path

oni6

Bukanya dari tengah sis

oni7

Bekal buat ke USJ

oni8

Di stasiun kereta

oni9

Hanami di Hiroshima

Ini jauh lebih murah daripada makan di restoran yang sekali makan bisa ratusan bahkan lebih dari seribu Yen. Tapi ya namanya ngelihat jajanan Jepang yang dari bentuknya indah dan bikin pingin nyobain semuanya, sesekali gw pun beli tapi tetep milih yang  terjangkau macem taiyaki 150 Yen, kue beras 100 Yen dan tentu saja es krim sakura dan matcha sekitar 300 Yen.

Nah, gw, Amanda dan mbak Tami beli onigiri literally setiap hari sampai akhirnya perjalanan kami memasuki waktu penghujung. Mulai bosan juga ketemu onigiri terus, akhirnya kami mengurangi beli onigiri sekitar 2 hari terakhir sebelum pulang. Yaudahlah ya, udah mau pulang ini gpp deh spending lebih banyak buat makan.

oni10

Yoshinoya beef bowl

Kami mampir ke Yoshinoya buat makan beef bowl 480 Yen, recommended karena porsinya gede. Kebetulan ada Yoshinoya di dekat Stasiun Keisei Takasago yang nggak jauh dari penginapan. Sempet juga ke McD dan gw seneng karena ada pie apple di sini.

Waktu jalan sama Saki, she’s our Japanese friend, doski ngajakin makan fancy di resto deket Ueno Park. Menunya macem-macem dan gw memilih salmon bento lengkap dengan nori soup. Asli ini salmonnya enak!

oni11
Secara keseluruhan gw suka banget sama makanan Jepang, terutama onigiri ya walaupun sempet bosen. hehe. Kemudian suatu saat sepulang dari Jepang, ada satu hal yang baru gw sadari.

LHA GW KE JEPANG KENAPA GA MAKAN SUSHI!! :””””””””D

Advertisements

Suatu Siang di Kedai Filosofi Kopi Blok M Jakarta

Jujur saja saya hanya melihat review film Filosofi Kopi, belum menonton filmnya apalagi membaca bukunya. Namun, saya tetap penasaran untuk mengunjungi dan tentu saja menikmati minuman di kedai yang merupakan perwujudan dari ide di dalam sebuah karya fiksi berjudul Filosofi Kopi ini. Saya pun berangkat ke kedai itu di suatu akhir pekan menjelang HUT ke-70 RI.

Saya dan seorang teman bertemu terlebih dahulu di Stasiun Sudirman. Dari sana, kami melanjutkan perjalanan naik bus TransJakarta dengan tujuan Blok M. Keluar dari bus, barulah kami berjalan kaki sampai ke kedai Filosofi Kopi. Letaknya tak jauh dari Blok M Square.

Filosofi Kopi

Filosofi Kopi

Bagian luarnya terdiri dari kaca dengan berbagai tulisan berwarna putih. JIka berdiri agak jauh sambil mencermati bagian depan kedai ini, ada tulisan PENCERITA di kaca yang melebar itu. Saya pribadi senang memandanginya, tapi waktu itu cuaca cukup panas dan saja buru-buru masuk ke dalam kedai.

Bagian depan Filosofi Kopi

Bagian depan Filosofi Kopi

Waktu itu waktu menunjukkan pukul 11.30 siang, kedai baru saja dibuka. Antrean belum terlalu ramai seperti yang saya lihat di foto orang-orang yang sudah duluan ke sini. Para barista dan tempat membuat kopi dan minuman lain ada di bagian tengah, sedangkan meja dan kursi pengunjung ada di pinggir area tersebut.

Berbagai poster dan hiasan yang berkaitan dengan film serta kopi pun dipajang. Ada gambar cangkir dengan mata dan hidung yang khas seperti di film. Ada pula rak yang berisi aneka majalah dan buku yang menarik dibaca sambil menunggu pesanan datang. Tak lupa pula semacam suvenir bergambar Rio Dewanto dan Chicco Jerikho ada di sana. Suasananya benar-benar asyik untuk sekadar nongkrong dan bercengkerama bersama sahabat. Atau duduk sendirian sembari menyesap secangkir kopi hangat.

Untuk menunya cukup beragam. Ada kopi tiwus, lestari, cappucino, dll, terserah Anda ingin pesan hot atau ice. Tidak semua minuman mengandung kopi kok. Jadi yang tidak biasa minum kopi (salah satunya saya :D) bisa pesan minuman chocolate, red velvet, green tea dan beberapa pilihan lain. Makanan ringan pun ada untuk yang ingin sekadar cemal-cemil di kedai itu.

ice chocolate

ice chocolate

Saya sendiri pesan ice chocolate dan teman saya pesan kopi tiwus. Ice chocolate disajikan dengan botol bening yang cukup besar, sedangkan kopi tiwus di dalam sebuah cangkir hitam. Nah, kalau ingin minum air putih tinggal ambil gelas dan air di drinkable tap water di dekat meja barista.

Kalau diperhatikan, hampir semua orang yang datang kemari pasti foto-foto. Entah itu selfie, wefie atau memotret minuman yang mereka pesan. Kalau tidak percaya, datang saja langsung. hehe

Saya sendiri cukup menikmati berkunjung ke kedai ini. Para barista yang saya kira jutek, ternyata cukup ramah dan melayani para pengunjung dengan baik. Sayangnya waktu itu tidak ada Rio Dewanto, padahal saya cukup penasaran untuk bertemu langsung dengan bintang film yang kini berkumis tebal itu. Ya, mungkin lain kali…

Rio Dewanto, Atiqah Hasiholan dan antrian pengunjung yang mengular

Rio Dewanto, Atiqah Hasiholan dan antrian pengunjung yang mengular (@riodewanto28)